sms

Senin, 16 Desember 2013

etika sosial


TUGAS ETIKA SOSIAL

Description: G:\widuri.png

DI SUSUN OLEH :

NAMA                             : Dede Supandi  
NPM                                : 12120013
PRODI                            : Ilmu Komunikasi
MATA KULIAH           : ETIKA SOSIAL
DS. PEMBIMBING       : Dr. Bambang Subandrijo, M.Th

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK (STISIP) WIDURI
JAKARTA
T.A.2012/2013
BAB 3
KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB
KEBEBASAN
1. Pengalaman Tentang Kebebasan
Dalam kehidupan setiap orang kebebasan adalah suatu unsur hakiki. Menurut KBBI, kebebasan adalah lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu dan sebagainya, sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa). Dalam ilmu filsafat, kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menentukan dirinya sendiri.
Menurut kamus hukum Black, “kebebasan” diartikan sebagai sebuah kemerdekaan dari semua bentuk-bentuk larangan , kecuali larangan yang telah diatur di dalam undang-undang.
2. Beberapa Arti Kebebasan
A.   Kebebasan Sosial-Politik
Kebebasan sosial politik dapat di bedakan menjadi kebebasan individual. Kebebasan sosial politik artinya yang dimaksud bebas disini adalah suatu bangsa atau rakyat. Sedangkan kebebasan individual adalah manusia perorangan. Dalam sejarah modern, kebebasan sosial politik dapat dibedakan dalam dua bentuk yaitu :
Ø  Kebebasan Rakyat Versus Kekuasaan Absolut
Kebebasan sosial politik pertama kali terjadi di benua eropa dan sekaligus menjadi sejarah dunia, yaitu di negara Inggris dan Prancis. Salah satu langkah pertama adalah Magna Charta (1215), piagam yang terpaksa oleh keadaan dikeluarkan Raja John untuk menganugerahkan kebebasan-kebebasan tertentu kepada para baron dan uskup inggris yang berisikan perumusan hak-hak parlemen terhadap monarki. Setelah itu proses pembatasan kuasa absolut monarki berjalan terus dan dapat dianggap selesai dengan yang disebut The Glorious Revolution (1688).
Dengan demikian, dalam sejarah tersebut terbentuklah demokrasi modern dimana perwakilan rakyat membatasi dan mengontrol kekuasaan raja, yang sebelumnya yang memegang kekuasaan tertinggi adalah raja namun kenyataanya kesadaran itu tumbuh karena kesusahan serta penderitaan rakyat akibat penindasan oleh raja-raja absolut (upeti, rodi, perlakuan sewenang-wenang, dan sebagainya). Maka timbul kesadaran bahwa yang berdaulat itu bukanlah raja, melainkan rakyat. Adapun semboyan yang mengungkapkan tujuan revolusi ini adalah “Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan” (Liberte, Egalite, Franternite).
Ø  Kemerdekaan Versus Kolonialisme
Kebebasan sosial politik menurut bentuk kedua di realisasikan dalam proses dekolonisasi yang dizaman kita sekarang kira-kira sudah rampung. Kebebasan dalam bentuk ini biasanya kita sebut “kemerdekaan”. Ini didasari pada timbulnya keyakinan bahwa tidaklah pantas suatu bangsa dijajah oleh bangsa lain, dan karena itu situasi kolonialisme tidak pernah boleh terjadi lagi dan di anggap tidak etis. Aspek etis itu dirumuskan dengan tepat dalam kalimat pertama dari Pembukaan UUD 1945, Dan pada tahun 1960 negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyepakati sebuah deklarasi yang pada pokoknya mempunyai isi yang sama: Hak semua negara dan bangsa yang dijajah untuk menentukan nasibnya sendiri.

B.   Anatomi Kebebasan Individual
1.     Kesewenang-Wenangan
Di sini “bebas” dimengerti sebagai terlepas dari segala kewajiban dan keterikatan, atau dilihat sebagai izin atau kesempatan untuk berbuat semau gue.
Ø  Dengan demikian seorang pelajar adalah bebas, kalau tidak perlu masuk sekolah, karena hari itu kebetulan libur atau karena ia mengambil keputusan untuk bolos. Ia bebas dalam arti: lepas dari kewajiban belajar dan dapat mengisi waktu sekehendak hatinya.
Ø  Seorang manejer dapat mengatakan bahwa jam sekian ia masih bebas, maksudnya, tidak terikat oleh janji atau komitmen lain.
Ø  Kata “bebas” di pakai juga dalam arti ini, bila orang berbicara tentang pergaulan bebas, cinta bebas, atau seks bebas (free love, free sex). “bebas” disini berarti terlepas dari segala peraturan atau kaidah. Kebebasan dalam konteks ini sama dengan suasana permisif.
Ø  Pengertian kebebasan ini melatarbelakangi juga liberalisme abad ke-19, bila mereka mendewa-dewakan free enterprise. Menurut mereka bisnis adalah usaha bebas, jika tidak ada regulasi, peraturan, atau campur tangan dari luar, khususnya pemerintah.

2.     Kebebasan Fisik
Kebebasan fisik berarti tiada paksaan atau rintangan dari luar. Yang artinya, orang menganggap dirinya bebas jika bisa bergerak kemana saja ia mau tanpa hambatan apapun. Atau bisa juga dikatakan seseorang tidak menikmati kebebasan fisik, namun sungguh-sungguh bebas. Friedrich Schiller, penyair Jerman akhir abad ke-18 mengatakan bahwa: “Manusia diciptakan bebas dan ia tetap bebas, sekalipun lahir terbelenggu.

3.     Kebebasan Yuridis
Yang dimaksud dengan kebebasan dalam arti ini adalah syarat-syarat fisis dan sosial yang perlu di penuhi agar kita dapat menjalankan kebebasan kita secara konkret. Atau dapat di katakan juga sebagai syarat-syarat yang harus di penuhi agar manusia dapat mengembangkan kemungkinan-kemungkinannya dengan semestinya. Kebebasan yuridis ini berdasarkan pada hukum kodrat dan hukum positif.
Ø  Kebebasan yang di dasarkan pada hukum kodrat artinya, semua kemungkinan manusia untuk bertindak bebas yang terikat begitu erat dengan kodrat manusia, sehingga tidak pernah boleh diambil dari anggota masyarakat.
Ø  Kebebasan yang berdasarkan pada hukum positif ini diciptakan oleh negara. Kebebasan-kebebasan ini merupakan buah hasil perundang-undangan, jika tidak dirumuskan maka sampai saat ini kebebasan tersebut tidak akan pernah ada.

4.     Kebebasan Psikologis
Kebebasan ini sangatlah penting, dimana manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan serta mengarahkan hidupnya, serta menyangkut kehendak bahkan merupakan ciri khasnya sebagai makhluk berasio yaitu berpikir sebelum bertindak, atau dengan kata lain, kebebasan psikologis adalah “kehendak bebas” (free will).

5.     Kebebasan Moral
Kebebasan moral adalah kebebasan tanpa paksaan moral, atau dengan kata lain kebebasan moral berarti suka rela (voluntary).
Cntoh, seorang sandera di paksa oleh teroris menandatangani sepucuk surat pernyataan. Secara psikologis perbuatan itu bebas, namun dari segi kebebasan moral perbuatan tersebut tidak bebas karena sandera melakukannya karena terpaksa atau karena takut di bunuh.

6.     Kebebasan Eksistensial
Kebebasan yang menyeluruh yang menyangkut seluruh pribadi manusia dan tidak terbatas pada salah satu aspek saja. Kebebasan ekstensial adalah kebebasan tertinggi. Kebebasan ekstensial adalah kebebsan etis. Kebebasan ini terutama merupakan suatu ideal atau cita-cita yang bisa memberi arah dan makna kepada kehidupan manusia. Orang yang bebas secara ekstensial seolah-olah memiliki dirinya sendiri . Ia mencapai taraf otonomi, kedewasaan, otentisitas dan kematangan rohani.
3. Beberapa Masalah Mengenai Kebebasan
     A. Kebebasan Negatif Dan Kebebasan Positif
Beberapa tahun yang lalu, seorang filsuf politikus terkemuka, menurut Berlin secara resmi merangka perbedaan antara dua prespektif ini sebagai perbedaan antara dua konsep kebebasan yang berlawanan: kebebasan positif dan kebebasan negatif. Sebagai dua aliran dalam filosofi politik demokratis –dua model yang membedakan John Locke dari Jean –Jacques Rousseau. Keduanya mempengaruhi motivasi hidup seseorang dalam lingkungan tertentu.
Kebebasan positif adalah tersedianya kesempatan untuk menjadi penentu atas kehidupan anda sendiri dan untuk membuatnya bermakna dan signifikan. Kebebasan positif adalah poros konseptual tempat berkembangnya tanggung jawab sosial. Implikasi hukum dari kebebasan positif di kembangkan oleh Zechariah Chafee dalam karya dua jilidnya Goverment and Mass Communciation (1947).

B.   Batas-Batas Kebebasan
kebebasan mempunyai beberapa batas-batasan. Batasan ini ada agar kita bisa mengendalikan pemikiran kita mengenai kebebasan itu.
Ø  Faktor-faktor dari dalam artinya, Kebebasan pertama-tama di batasi oleh faktor-faktor dari dalam, baik fisik maupun psikis.
Ø  Faktor Lingkungan artinya, Kebebasan yang di batasi oleh lingkungan, baik ilmiah maupun sosial. Lingkungan ini sangat menentukan pandangan kita mengenai kebebasan. Karena di setiap lingkungan yang berbeda maka mereka mempunyai pandangan yang berbeda pula.
Ø  Kebebasan orang lain artinya, Dalam budaya Barat, undang-undanglah yang menentukan batasan kebebasan dan undang-undang ini hanya menyoroti masalah sosial yang ada. Atau undang-undang mengatakan bahwa kebebasan seseorang tidak boleh menodai kebebasan orang lain dan membahayakan kepentingan mereka. Setiap manusia memiliki kebebasannya masing-masing dan hal tersebut menjadi pembatas bagi kebebasan manusia yang lainnya.
Ø  Generasi-generasi mendatang artinya, kebebasan juga di batasi oleh masa depan manusia, atau generasi mendatang. Kebebasan kita dalam menggunakan sumber daya sampai poin tertentu, sehingga generasi kedepan juga bisa menggunakan alam sebagai dasar kebutuhan hidupnya, atau istilahnya adalah sustainable development (pembangunan berkelanjutan).

C.   Kebebasan Dan Determinisme
Kebebasan merupakan persoalan yang paling penting, sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Persoalan kebebasan telah merambah keseluruh wilayah politik dan ekonomi. Maksud dari determinisme disini adalah kejadian-kejadian dalam alam berkaitan satu sama lain menurut keterikatan yang tetap, sehingga satu kejadian mengakibatkan kejadian lain. Dengan begitu hubungan antara determinisme dan kebebasan dapat dilukiskan dengan baik.
Ø  Dalam alam diluar manusia, pada prinsipnya terdapat kemungkinan sepenuhnya untuk mengadakan ramalan.
Ø  Kemungkinan untuk meramal adalah relatif besar dalam kaitan dengan pola-pola tingkah laku kelompok besar manusia yang melakukan hal-hal normal atau yang berkelakuan secara rutin.
TANGGUNG JAWAB
1. Tanggung Jawab Dan Kebebasan
Tanggung jawab berkaitan erat dengan “penyebab”. Yang bertanggung jawab hanya yang menyebabkan atau yang melakukan tindakan. Tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan dan sebaliknya, bertanggung jawab berarti dapat menjawab, bila ditanyai tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Tanggung jawab berarti orang tidak boleh mengelak bila diminta penjelasan tentang tingkah laku atau perbuatannya. Orang yang tidak menjadi penyebab suatu akibat, maka dia tidak harus bertanggung jawab. Tanggung jawab bisa berarti langsung atau tidak langsung. Tanggung jawabpun bisa berarti prospektif ataupun retrospektif.
Tanggung jawab prospektif yaitu, bertanggung jawab atas perbuatan yang akan datang, sedangkan tanggung jawab retrospektif yaitu, tanggung jawab atas perbuatan yang telah berlangsung dengan segala konsekuensinya.
2. Tingkat-Tingkat Tanggung jawab
Untuk menentukan bertanggung jawabkah seseorang dalam perbuatannya, kita harus sesuaikan dengan apa yang dilakukan seseorang tersebut, yang berkaitan dengan tugasnya dan kewajiban terhadap apa yang dilakukannya. Dan untuk memastikan tingkat-timgkat tanggung jawabnya.
Contoh :
Ø  Ali mencuri tapi dia tidak tahu bahwa ia mencuri.
Ali mengambil tas milik orang lain berisikan uang 100 juta rupiah, karena ia berpikir tas tersebut adalah tas miliknya. Karena kesamaan warna dan bentuk persis sama seperti miliknya.
Ø  Budi mencuri karena dia seorang kleptoman.
Budi mengambil tas berisikan uang milik orang lain, tapi ia menerima kelainan jiwa yang disebut “kleptomani”, yaitu ia mengambil tas tersebut karena paksaan batin untuk mencuri.

3. Tingkat-Tingkat Tanggung Jawab
Tanggung jawab kolektif dapat dikatakan juga tanggung jawab kelompok. Tanggung jawab kolektif bukan tanggung jawab struktural (seperti tanggung jawab kelompok mafia atau perusahaan), tetapi  bahwa orang A, B, C, D, dan seterusnya, secara pribadi tidak bertanggung jawab, tetapi semuanya bertanggung jawab sebagai kelompok. Paham tentang tanggung jawab kolektif secara moral sangat sulit dimengerti, karena sulit untuk mengakui suatu kesalahan yang tidak secara langsung kita lakukan.




KESIMPULAN

·         Masalah kebebasan dan tanggung jawab adalah merupakan faktor dominan yang menentukan suatu perbuatan, dan dapat dikatakan sebagai perbuatan akhlak. Disinilah letak hubungan fungsional antara kebebasan, tanggung jawab dengan akhlak. Jadi, dalam membahas akhlak seseorang tidak dapat meninggalkan pembahasan mengenai kebebasan dan tanggung jawab.
·         “Kebebasan” dan “Tanggung Jawab” merupakan pengertian kembar. Dalam pengertiannya terdapat hubungan timbal balik, sehingga orang yang mengatakan “manusia itu bebas” dengan sendirinya menerima juga “manusia itu bertanggung jawab”. Sebaliknya, jika kita bertolak dari pengertian “tanggung jawab”, kita selalu turut memaksudkan juga “kebebasan”. Jadi, kedua pengertian tersebut tidak dapat di pisah-pisahkan.

             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar